Sabtu, 09 Februari 2013

Intelijen Bisnis

Intelijen Bisnis
Dalam era persaingan yang makin mengganas, banyak cara harus dilakukan untuk tidak hanya tetap bertahan/survive, akan tetapi juga tumbuh dan menghasilkan profit. Keuntungan yang kita harus capai pun tidak cukup hanya sekedar untung, tapi harus signifikan agar dimungkinkan adanya ekspansi dan akuisisi. Tujuan persaingan sekarang tidak boleh dipandang sebagai pemacu agar bisa memberikan layanan yang baik saja. Tapi persaingan sekarang harus dipandang sebagai persaingan hidup dan mati. Siapa yang kuat, dia yang menang. Jangan ragu untuk menggunakan prinsip tersebut. Dalam persaingan, kita tidak boleh setengah-setengah. Karena itu akan menjadi titik lemah kita yang akan berakibat sangat fatal. Kekuatan, agresifitas dan totalitas dalam bersaing harus terus dipegang.



Bisnis adalah perang. Bukan sebuah persahabatan atau persaudaraan yang segala sesuatu diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Semua ada harga dan perhitungan untung ruginya. Hanya ada 2 kata yang harus benar-benar diperhatikan dan dipahami dengan baik, yaitu “untung” atau “rugi”. Dengan kata lain, profesionalitas bisnis.

Kalau untung, kita tetap bertahan dan berkembang, kalau rugi kita mati. Seperti halnya dalam masa perang. Kita menang, kita selamat. Kita kalah, kita mati.



Salah satu stretegi penting dalam dunia peperangan adalah intelijen. Kenapa dalam dunia bisnis memerlukan intelijen ? Berikut salah satu kutipan dari sebuah artikel bisnis di internet,



“Business Week (Knotts, 1989) sempat menyampaikan bahwa terdapat 5.000 mata-mata perusahaan yang saat ini aktif terlibat dalam aktifitas intelijen, dan sembilan dari sepuluh perusahaan besar memiliki staf-staff yang sangat berdedikasi khusus untuk mengumpulkan intelijen kompetitif. Artikel ini pun mengatakan lebih lanjut bahwa banyak perusahaan besar AS yang telah menghabiskan lebih dari US$1 juta/tahun hanya untuk menelusuri pesaingnya. Bukti menyatakan bahwa manfaat dari memata-matai perusahaan justru meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya dan memperbaiki pengambilan keputusan.”

(http://stie-ibek.ac.id/900node/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=10)



Lalu apa sebenarnya definisi inteligen bisnis itu sendiri ? Seperti yang sudah kita ketahui pada umumnya perusahaan-perusahaan besar di dunia melakukan proses seleksi, koleksi, interpretasi, dan distribusi informasi terbuka yang bisa diakses publik namun memiliki nilai penting bagi perusahaan. Usaha-usaha tersebut bisa kita istilahkan sebagai intelijen bisnis. Lebih jauh intelijen bisnis bisa kita definisikan sebagai berikut :

1. Intelijen Bisnis adalah sebuah alternatif terminologi bagi Competitive Intelligence. Definisinya adalah kegiatan-kegiatan monitoring lingkungan eksternal sebuah perusahaan untuk mendapatkan informasi yang relevan bagi proses pembuatan kebijakan perusahaan tersebut.

2. Istilah lain CI adalah Competitor Intelligence, yaitu proses analisa yang mentransformasikan keseluruhan competitor intelligence yang utuh menjadi pengetahuan strategis tentang kompetitor, posisi, performance, kapabilitas, dan niat/tujuan. Pengetahuan strategis tersebut harus relevan, akurat, dan bisa digunakan.

3. Competitive Intelligence adalah sebuah cara berpikir (way of thinking).

4. CI menggunakan sumber-sumber informasi publik untuk mengetahui lokasi dan membangun informasi tentang persaingan dan pesaing-pesaing yang ada.

5. Competitor intelligence adalah informasi yang sangat spesifik dan tepat waktu tentang sebuah perusahaan.

(Richard Coombs, Competitive intelligence handbook. University Press of America, Bab I)

Jadi peran intelijen bisnis untuk saat ini memang dipandang perlu. Karena dinamika bisnis era sekarang sudah begitu cepat berkembang dan begitu ketat bersaing. Sehingga perubahan sekecil apapun dari lingkungan ekternal kita dan sesingkat apapun waktu berlangsungnya perubahan, akan berdampak besar terhadap kelangsungan bisnis sebuah perusahaan. Siapa yang cepat dan cerdas memanfaatkan waktu dan situasi dialah yang akan berkembang. Sebuah keputusan haruslah cepat, tepat dan strategis. Bagaimana itu bisa terlaksana, fungsi dari inteligen bisnis inilah yang menentukan.



Ada dua main job atau tugas utama dari seorang agen inteligen bisnis, yaitu :


mendapatkan informasi


membentuk sebuah opini



Pentingnya intelijen atau mata-mata atau spionase bisnis adalah informasi. Informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan musuh yang sedang dihadapi dari sisi bisnis. Siapa mereka, apa tujuannya, seberapa besar kekuatan mereka ( berkaitan dengan,produk, modal, teknologi yang digunakan, sistem administrasi dan SDM ) apa rencana dan strategi mereka, dimana kelemahan mereka, dan dengan siapa saja mereka menjalin hubungan, dll.

Selain dari pada itu intelijen bisnis dituntut untuk mengetahui sejauh mana loyalitas pelanggan terhadap produk, merk dan jasa tertentu sekaligus segmentasi pasar.



Informasi-informasi tersebut yang kemudian akan kita gunakan untuk menyusun strategi yang tepat untuk menghadapi dan bahkan mengalahkan mereka. Tanpa adanya informasi-informasi tadi, kita hanya bisa meraba, mengkira-kira dan menebak-nebak. Jauh akan lebih sulit bagi kita untuk menentukan tindakan dan strategi yang akan digunakan.



Yang kedua, tugas intelijen selain mengumpulkan informasi, juga harus mampu membentuk sebuah opini publik terhadap produk kita maupun produk kompetitor. Pembentukan opini ini tergantung mau kita arahkan kemana. Apakah untuk memperbaiki dan menaikkan index persepsi baik/popularitas dari produk kita atau sebaliknya untuk menjatuhkan/melemahkan produk kompetitor. Pembentukan opini ini akan sangat berdampak signifikan terhadap kepercayaan dan loyalitas konsumen terhadap sebuah produk. Opini bisa diciptakan dan dimanipulasi. Pemilihan materi dan media sangat penting dalam proses ini. Dan itu adalah tugas dari para agen inteligen bisnis.



Tak jauh dari dunia perang, inteligen dalam dunia bisnis pun mutlak diperlukan agar roda bisnis kita tetap berjalan dengan baik. Tidak harus tujuannya “membunuh” dengan melakukan Offensive Inteligent, tapi cukup hanya untuk menjaga dan memastikan kelangsungan dan pertumbuhan positif bisnis kita (deffensif inteligent ). Bila kita masih menghormati etika bisnis dan praktek-praktek persaingan bisnis yang sehat, maka tidak perlu kita menggunakan intelijen kotor . Berperang habis-habisan dan total, bukan berarti menghalalkan segala cara.



Defensif intelijent maupun Offensif Inteligent bisnis tidak harus membuat kita berlaku curang dengan menyusup kedalam organisasi kompetitor dan mencuri ide dan gagasan mereka seperti halnya yang terjadi pada perusahaan Unilever yang menuntut Procter & Gamble (P&G) atas aktifitas mata-mata untuk mendapatkan rahasia bisnis perawatan rambut Unilever.



Kita tidak bicara hal kotor seperti itu, karena bagaimanapun kerasnya “ belantara bisnis” dewasa ini yang namanya Business Etique tetap harus dijalankan sehingga informasi yang digunakan melalui intelijen kompetitif untuk menyusun strategi dan taktik tetap dijalankan dengan etis karena tujuan dari intelijen bisnis adalah bukan mencuri rahasia perusahaan kompetitor, rahasia pasar kompetitor ataupun properti rahasia lainnya. Tetapi merupakan sebuah teknik pengumpulan informasi secara sistematis, secara terbuka (legal) dalam jangkauan informasi yang begitu luas, yang ketika telah terseleksi dan disatupadukan serta dianalisa akan menyediakan sebuah pemahaman yang utuh tentang struktur perusahaan pesaing, budaya perusahaan, kebiasaan, kemampuan/kelebihan dan kelemahannya.



Salah satu intelijen yang fair adalah mengamati pergerakan kompetitor secara cermat melalui berbagai media legal maupun publisitas mereka. Biarpun informasi ini bersifat umum dan terbuka untuk semua orang, bukan berarti itu informasi yang tidak penting dan dangkal. Jika kita bisa mengolahnya dengan baik dan menganalisa dengan detail akan banyak hal yang bisa kita dapatkan dari hanya sekedar berita. Beranjak lebih jauh, kita bisa menjadi “konsumen” kompetitor juga dalam skala kepentingan investigasi. Sampai sejauh mana kualitas produk mereka, bagaimana price nya, dan bagaimana tingkat pelayanan pra dan pasca jual kepada pelanggan. Dengan memposisikan kita sebagai konsumen, akan kita dapatkan informasi yang qualify dan akurat dibandingkan dengan mengandalkan sumber lain.



Dalam intelijen, prinsip “kenali dan dapatkan” adalah tujuan utama yang harus dicapai. Untuk bisa mencapai tahapan ini diperlukan :



1. Orang yang tepat

2. Cara yang tepat

3. Tools/sarana dan media yang tepat



Minimal tiga point diatas harus bisa terpenuhi agar proses pengumpulan informasi dan pembentukan opini dapat berjalan dengan baik selain tentunya hal-hal lain termasuk juga besaran alokasi anggaran, timing yang tepat dan situasi eksternal masyarakat (ekopolsosbud).



Pemilihan orang yang tepat, tidak harus berasal dari internal. Justru akan lebih leluasa dan bebas jika agen tersebut adalah orang luar yang kita didik dan tugaskan untuk mendapatkan informasi dibandingkan dengan orang dalam.



Dalam mempengaruhi opini publik pun, akan lebih terasa realistis dan obyektif jika itu berasal dari kalangan luar organisasi kita. Tidak ada salahnya kita menggandeng tokoh keagamaan, budayawan, seniman bahkan seorang politisi untuk bisa menyuarakan opini seperti apa yang kita inginkan. Tentunya hal tersebut tidaklah gratis/cuma-cuma. Tapi bila kita memiliki konsep yang matang dengan hal tersebut, sepertinya anggaran/cost yang kita keluarkan akan sebanding dengan hasil yang kita inginkan. Jaman sekarang bukanlah jaman pure bussines dimana bisnis berjalan sendirian melalui perangkat bisninya. Sekarang adalah jaman dimana segala sumberdaya yang bisa memuluskan jalan digunakan. Termasuk pengaruhnama besar, popularitas, kekuatan politik dan jabatan dalam penentuan regulasi dan aturan mulai digunakan sebagai salah satu tangan dan tameng bisnis. Sekali lagi, mengingat etika bisnis yang harus kita patuhi, proses ini pun jangan sampai kebablasan dan salah kaprah yang membuat saling menjatuhkan dan membunuh pihak lain. Tapi cukup untuk memastikan ketidakberpihakan pemilik wewenang dan kekuasaan kepada salah satu kompetitor, menjamin terlaksananya persaingan yang sehat dan memberikan “sedikit” apresiasi dan opini positif dan obyektif terhadap produk dan jasa kita sehingga penilaian masyarakat/konsumen akan obyektif dan fair. (cbn, 10 feb 2009)





Daftar Referensi :



http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/24/opi04.htm

http://widyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/5561/Modul_ke_3_sim_PTIK.doc

http://indonesiafile.com/content/view/541/61/

http://intelindonesia.blogspot.com/2006/09/competitive-intelligence-ci.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar